Pages

Sunday, April 04, 2010

Ku ingin menjadi wanita bagi 'pahlawan'...

Di sebalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita agung. Begitu kata pepatah Arab. Wanita agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu atau sang isteri.

Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebahagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi didalam dirinya bersinergi dengan momentum diluar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Dan tiba-tiba sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan konsisten.


Apa yang telah dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi bagi para pahlawan; wanita adalah salah satunya. Wanita bagi banyak pahlawan adalah penopang spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapat ketenangan dan keghairahan, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Lelaki2 menumpahkan energi di luar rumah, dan mengumpulkannya lagi didalam rumahnya.

Kekuatan besar yang dimiliki para wanita yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat menambatkan kapal, atau pohon rendang tempat sang musafir berteduh. Tapi, kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman, wanita bisa menjadi tempat bg sang pahlawan menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan mereka, tempat mereka bermain dengan bersahaja dan riang, saat mereka melepaskan kelemahan-kelemahan mereka dengan aman, saat mereka merasa bukan siapa-siapa, saat mereka menjadi anak kecil. Kerana di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan ini menyedut energi jiwa mereka.

Itu sebabnya Umar bin Khattab mengatakan, “Jadilah engkau anak kecil di depan isterimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu’. Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justeru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

“Saya selamanya ingin menjadi anak kecil yang polos.” kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan isterinya.

Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan luar biasa? Khadijah! Maka ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan; “Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan Khadijah?”

Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.


Dan hati kecil ini berbicara: Ya Allah, izinkan ku menjadi wanita bagi 'pahlawan'...wanita solehah buat seorang suami... ~

2 comments:

Sop said...

mcmane kalau si isteri balik keje penat atau tak balik langsung (oncall)? sanggup melayan kerenah kekanakan suami?

Dr Prodigy said...

sbb tula kena cari yg memahami... so, situasi blh jd vice versa. saling give n take...saling memberi kekuatan...